“when i fall in love, i fall hard”. Sangat
keras. Dan ini adalah kisah pertama kali aku rasa aku merasakan cinta
Aku tidak percaya pada cinta. Bukan karena
aku tidak mempercayainya, tetapi karena aku tidak mau mempercayainya.
Banyak yang mengira aku berhati dingin.
Mereka mungkin tidak sepenuhnya salah. Rasionalisasi mengalahkan emosi. Percaya
pada otakmu. Otakmu yang paling mengetahui apa yang sebenarnya hatimu butuhkan.
Lain dengan hatimu yang selalu menginginkan.
Dan nyatanya otakku menyelamatkan aku,
mungkin berkali kali. Otakku menyuruhku untuk tidak memlih sakit. Itu artinya
tidak memilih cinta
Tidak ada yang salah dengan cinta. Tidak
ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan orang yang
sedang mencinta. Tidak ada yang salah dengan orang yang sedang dicinta. Aku
hanya tidak memahami. Mengapa orang orang sangat mengagumi cinta padahal aku
tahu benar cinta hanya akan menghancurkan
Aku bukannya tidak mampu mencintai. Aku
bukannya tidak bisa dicintai. Aku selalu menutup hatiku. Aku tahu cinta itu
sakit, dan aku belum menemukan untuk siapa aku rela merasa sakit
Sering rasanya aku merindukan rasa tergila
gila. Saat aku membuka mata, saat aku menutup mata, saat aku bersama, saat aku
berpisah, hanya ada 1 orang yang aku pikirkan. Saat aku bahagia aku ingin
berbahagia dengannya. Saat aku sedih aku hanya ingin bersamanya. Kadang aku
sangat merindukan rasa itu. Rasa yang hanya ada dalam hatiku, yang tak bisa
diterima oleh otakku
Aku merindukan cinta. Aku ingin menemukan
cinta, dan cinta menemukanku
*****
Semua berawal saat aku kira aku telah
berhasil mengisolasi cinta dari hatiku. Aku merasa bebas tanpa beban saat
meyakinkan diriku aku telah mengunci hatiku. Membuat inpenetrable shield made
of sanity. Lalu aku mulai bermain. Aku merasa sangat kuat, bullet-proove.
Seharusnya aku tau aku hanya tahan terhadap peluru. Aku bukannya tahan terhadap
air.
Itulah kamu. Air. Kamu adalah sebuah
permainan untukku,- awalnya-. Aku hanya menginginkan untuk duduk di tepi
pantai, berjalan menikmati guyuran ombak “cetek” menyapu pasir dari kaki,
menghirup harumnya laut. Bermain-main sedikit dengan air sambil terus menyusuri
tepi pantai.
Tetapi laut itu begitu indah. Laut itu
memahamiku. Laut itu memanggil namaku dengan deburan ombaknya. Menyapaku dengan
bantuan mentari di garis cakrawala. Memelukku dengan angin dingin yang terasa
sangat nyaman, menyejukkan.
Kakiku tak lagi berjalan menyusuri tepi
pantai. Otakku mengalah. Hatiku bersorak. Benteng pertahananku baru saja retak.
Belum runtuh. Tetapi cukup untuk merasakan
*****
Merasakan. betapa lucunya kata itu muncul
dalam benakku. Rasa. Apa itu rasa. Aku tak pernah berusaha mencari tahu dan tak
pernah ingin tahu. Tentang rasa, tentang cinta, tentang romansa dan tentang
cerita. Mereka bukanlah kata yang dapat di deteksi otakku. Untuk aku rasa hanya
4 huruf yang kebetulan membentuk kata. Kata yang sebenarnya tak perlu
diagung-agungkan. Kata yang sebenarnya kosong.
Manusia mengarangnya hanya sebagai
pembenaran diri. Mereka merasa menginginkan sesuatu tetapi tak pernah ingin
dianggap heartless people. Maka mereka menggunakan filosofi rasa.
Orang orang sepertiku yang tidak pernah
menyatakan cinta jauh lebih baik, kita tidak menggunakan kata itu sebagai
pembenaran diri. Orang orang sepertiku berani mengakui bahwa yang kita inginkan
hanyalah sebuah kesenangan sesaat. Yang tanpa ikatan. Yang tanpa resiko
Mereka yang menganggap aku pengecut adalah
pengecut sebenarnya. Mereka mengagung-agungkan kata cinta tetapi menggunakannya
selayaknya barang obral. Seperti baju bekas layak pakai yang bisa diberikan
lagi kepada orang lain. Apakah itu keagungan cinta yang kalian pahami wahai
saudara pengagum cinta?
*****
Tetapi kali ini. Aku tidak tahu. Aku tak
pernah menyerah pada cinta. Apakah ini pengecualian. Apakah ini yang alam
inginkan. Apakah ini yang terukir dalam lembaran takdir. Dan terlebih lagi,
apakah ini yang aku inginkan?
Perang yang terjadi dalam benaku antara
rasionalisasi dan emosi bahkan tak lagi terdeteksi oleh aku. Air itu
melarutkannya. Menghapuskan perang itu dan menutup mulut rasionalisasiku.
Absurd
Layaknya air, kau mengisi setiap lekukan,
setiap retakan dan setiap kekosongan dalam hatiku. Begitu mudahnya kau
mengikuti bentuk wadahmu. Begitu mudahnya kau mengisi aku.
*****
Aku tak bisa menahan diri untuk menyelam.
Tak ada lagi rasa tidak aman. Batu karang yang tajampun tak akan bisa
menyakitiku. Rasanya aku tidak perlu menahan nafas. Aku bebas bernafas saat aku
menyelam. Aku bersama diriku saat aku menyelam. Atau terlebih, aku bersama
hatiku.
Aku menyadari ada arus yang sangat deras
saat itu hampir dapat terlihat jelas akan membentuk pusaran air yang dapat
menarikku ke dasar laut dan tak akan pernah lagi bertemu daratan dimana takan
ada lagi deburan ombakmu, tak ada lagi mentari yang menyapaku, tak ada lagi
angin yang memelukku.
Aku tidak peduli. Aku merasa aman. Aku
merasa tak terkalahkan. Aku yakin aku bisa membelah pusaran itu dengan mudah.
Bak musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya.
Aku terus berenang, menyelam. Aku menuju
arus itu. Aku ingin membuktikan aku tak bisa dikalahkan.
Lagumu bermain liar di benakku.
Memberanikan aku. Membuatku percaya. Membuatku terlupa
Arus itu, pusaran itu semakin terlihat
jelas. Sampai akhirnya aku terhisap dalam pusaran itu. Anehnya pusaran itu
terasa hangat, lembut. Pusaran itu tak lagi terlihat cepat dan menakutkan.
Lebih seperti keindahan yang hakiki. Hangat, lembut. Betapa anehnya
Aku terhisap semakin dalam. Tidak
mengetahui apa yang ada di dasar pusaran itu. Adakah bahaya terdapat disana.
Adakah kegelapan menyambutku disana. Akankah dinginnya menusuk tulangku.
Aku tidak peduli. Hatiku yakin. Otakku
menyerah.
Aku sampai dasar laut.
Aku melihat keindahan.
Aku dikelilingi air, aku bersamamu. Tidak
ada bahaya yang mampu mengusikku. Aku berada dalam kesunyian, senyap, tetapi
dapat kudengar deburan ombak. Aku berada di kegelapan dasar laut tetapi dapat
merasakan sang mentari. Angin yang dulu memeluku telah memberikan
kepercayaannya kepada air untuk memelukku lebih erat. Pelukanmu terasa hangat.
Berbeda
Untuk beberapa saat. Aku dapat merasakan
apa yang mereka bilang keindahan cinta. Hangatnya kasih sayang. Indahnya
pelangi harapan. Dan manisnya rasa
Sampai pada saat itu ....
*****
Air teringat ia tidak bisa meninggalkan
tugasnya untuk menjadi awan dan menyejukkan belahan bumi yang lain. Air
teringat ia tidak dapat memelukku lebih erat dari sang angin. Air tidak dapat
meninggalkan kodratnya untuk menjadi hujan.
Air bukanlah milikku. Air menginginkanku.
Tetapi ia kalah terhadap kodratinya. Ia tak berani tetap tinggal didasar laut
dan mendampingiku. Bersamaku
Ia memaksaku kembali ke permukaan. Ia
membuatku terseret ke daratan. Ia membuatku tak kembali berani untuk berenang.
Apalagi menyelam
Air berkata padaku ia ingin tetap
bersamaku. Air berkata padaku akan meninggalkanku. Air berkata padaku agar
meninggalkannya. Air berkata padaku jangan pernah melewatkan hujan karena saat
itu ia dapat bersamaku. Air berkata padaku ia mencintaiku. Air berkata padaku
ia tak bisa bersamaku
Air yang tampak sangat tak berbahaya. Air
yang tampak sangat berani untuk tetap menghancurkan dirinya di batu karang
bahkan tak berani untuk tetap berada di laut.
Dan yang ia tak sadari, air telah mengikis
bentengku. Yang tadinya hanya retakan telah menjadi lubang yang menganga. Yang
tadinya diisi oleh sejuknya air kini kering. Meninggalkan retakan-retakan
kekeringan yang terasa masam dan pahit.
*****
Hatiku menangis. Hatiku tersesak. Hatiku
tersakiti.
Otakku tak bisa lebih tidak peduli kepada
hatiku. Otakku dapat merasakan kejayaanya kembali. Otakku berpesta.
Nyala lilin yang menenangkan hanya terlihat
indah oleh otakku. Hatiku hanya dapat merasakan panas nyala apinya
Kata kata bijaksana yang kembali di
tuliskan hanya dapat dimengerti kegunaanya oleh otakku. Hatiku hanya dapat
merasakan dinginnnya arti goresan tinta itu
Hatiku terus bergumam. Hatiku tak bisa
menerima kekalahannya. Hatiku hanya.... merindukannya. Dan hatiku hanya
tersakiti olehnya
Bukankan hal ini yang selalu otakku coba
jauhkan. Bukankah yang seperti ini yang otakku coba hindarkan. Otakku memang
selalu mengerti apa yang sebenarnya aku butuhkan. Tak seperti hatiku yang hanya
menginginkan.
*****
Setiap hujan datang, aku tak akan sudi
membiarkan diriku basah oleh air. Aku tak akan sudi untuk kembali membiarkan
retakan itu terbentuk. terkadang hatiku memohon. Terkadang aku sangat
merindukannya.
Tidakkah air itu menyadari setiap ia datang
dalam bentuk hujan, ia hanya akan menyejukkan orang lain. Yang untuk orang lain
hujan itu terasa manis untukku sangat mengikis.
Bukannya tak mungkin menggapai cintamu.
Hanya saja aku tak sanggup kembali hancur. Aku tak ingin sakit. Aku tak sanggup
sakit.
*****
“When i fall in love, i fall hard”. Sangat
keras. Dan ini adalah kisah pertama kali aku rasa aku merasakan cinta
Setelahnya, kemarau panjang kembali
menghuni ruang di hatiku