Monday, September 9, 2013

KEMARAU



“when i fall in love, i fall hard”. Sangat keras. Dan ini adalah kisah pertama kali aku rasa aku merasakan cinta

Aku tidak percaya pada cinta. Bukan karena aku tidak mempercayainya, tetapi karena aku tidak mau mempercayainya.
Banyak yang mengira aku berhati dingin. Mereka mungkin tidak sepenuhnya salah. Rasionalisasi mengalahkan emosi. Percaya pada otakmu. Otakmu yang paling mengetahui apa yang sebenarnya hatimu butuhkan. Lain dengan hatimu yang selalu menginginkan.

Dan nyatanya otakku menyelamatkan aku, mungkin berkali kali. Otakku menyuruhku untuk tidak memlih sakit. Itu artinya tidak memilih cinta

Tidak ada yang salah dengan cinta. Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Tidak ada yang salah dengan orang yang sedang mencinta. Tidak ada yang salah dengan orang yang sedang dicinta. Aku hanya tidak memahami. Mengapa orang orang sangat mengagumi cinta padahal aku tahu benar cinta hanya akan menghancurkan

Aku bukannya tidak mampu mencintai. Aku bukannya tidak bisa dicintai. Aku selalu menutup hatiku. Aku tahu cinta itu sakit, dan aku belum menemukan untuk siapa aku rela merasa sakit

Sering rasanya aku merindukan rasa tergila gila. Saat aku membuka mata, saat aku menutup mata, saat aku bersama, saat aku berpisah, hanya ada 1 orang yang aku pikirkan. Saat aku bahagia aku ingin berbahagia dengannya. Saat aku sedih aku hanya ingin bersamanya. Kadang aku sangat merindukan rasa itu. Rasa yang hanya ada dalam hatiku, yang tak bisa diterima oleh otakku

Aku merindukan cinta. Aku ingin menemukan cinta, dan cinta menemukanku

                                                         *****
Semua berawal saat aku kira aku telah berhasil mengisolasi cinta dari hatiku. Aku merasa bebas tanpa beban saat meyakinkan diriku aku telah mengunci hatiku. Membuat inpenetrable shield made of sanity. Lalu aku mulai bermain. Aku merasa sangat kuat, bullet-proove. Seharusnya aku tau aku hanya tahan terhadap peluru. Aku bukannya tahan terhadap air.

Itulah kamu. Air. Kamu adalah sebuah permainan untukku,- awalnya-. Aku hanya menginginkan untuk duduk di tepi pantai, berjalan menikmati guyuran ombak “cetek” menyapu pasir dari kaki, menghirup harumnya laut. Bermain-main sedikit dengan air sambil terus menyusuri tepi pantai.
Tetapi laut itu begitu indah. Laut itu memahamiku. Laut itu memanggil namaku dengan deburan ombaknya. Menyapaku dengan bantuan mentari di garis cakrawala. Memelukku dengan angin dingin yang terasa sangat nyaman, menyejukkan.

Kakiku tak lagi berjalan menyusuri tepi pantai. Otakku mengalah. Hatiku bersorak. Benteng pertahananku baru saja retak. Belum runtuh. Tetapi cukup untuk merasakan

                                               *****

Merasakan. betapa lucunya kata itu muncul dalam benakku. Rasa. Apa itu rasa. Aku tak pernah berusaha mencari tahu dan tak pernah ingin tahu. Tentang rasa, tentang cinta, tentang romansa dan tentang cerita. Mereka bukanlah kata yang dapat di deteksi otakku. Untuk aku rasa hanya 4 huruf yang kebetulan membentuk kata. Kata yang sebenarnya tak perlu diagung-agungkan. Kata yang sebenarnya kosong.

Manusia mengarangnya hanya sebagai pembenaran diri. Mereka merasa menginginkan sesuatu tetapi tak pernah ingin dianggap heartless people. Maka mereka menggunakan filosofi rasa.

Orang orang sepertiku yang tidak pernah menyatakan cinta jauh lebih baik, kita tidak menggunakan kata itu sebagai pembenaran diri. Orang orang sepertiku berani mengakui bahwa yang kita inginkan hanyalah sebuah kesenangan sesaat. Yang tanpa ikatan. Yang tanpa resiko

Mereka yang menganggap aku pengecut adalah pengecut sebenarnya. Mereka mengagung-agungkan kata cinta tetapi menggunakannya selayaknya barang obral. Seperti baju bekas layak pakai yang bisa diberikan lagi kepada orang lain. Apakah itu keagungan cinta yang kalian pahami wahai saudara pengagum cinta?

                                                         *****

Tetapi kali ini. Aku tidak tahu. Aku tak pernah menyerah pada cinta. Apakah ini pengecualian. Apakah ini yang alam inginkan. Apakah ini yang terukir dalam lembaran takdir. Dan terlebih lagi, apakah ini yang aku inginkan?

Perang yang terjadi dalam benaku antara rasionalisasi dan emosi bahkan tak lagi terdeteksi oleh aku. Air itu melarutkannya. Menghapuskan perang itu dan menutup mulut rasionalisasiku. Absurd

Layaknya air, kau mengisi setiap lekukan, setiap retakan dan setiap kekosongan dalam hatiku. Begitu mudahnya kau mengikuti bentuk wadahmu. Begitu mudahnya kau mengisi aku.
                           
                                                         *****

Aku tak bisa menahan diri untuk menyelam. Tak ada lagi rasa tidak aman. Batu karang yang tajampun tak akan bisa menyakitiku. Rasanya aku tidak perlu menahan nafas. Aku bebas bernafas saat aku menyelam. Aku bersama diriku saat aku menyelam. Atau terlebih, aku bersama hatiku.

Aku menyadari ada arus yang sangat deras saat itu hampir dapat terlihat jelas akan membentuk pusaran air yang dapat menarikku ke dasar laut dan tak akan pernah lagi bertemu daratan dimana takan ada lagi deburan ombakmu, tak ada lagi mentari yang menyapaku, tak ada lagi angin yang memelukku.

Aku tidak peduli. Aku merasa aman. Aku merasa tak terkalahkan. Aku yakin aku bisa membelah pusaran itu dengan mudah. Bak musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya.

Aku terus berenang, menyelam. Aku menuju arus itu. Aku ingin membuktikan aku tak bisa dikalahkan.

Lagumu bermain liar di benakku. Memberanikan aku. Membuatku percaya. Membuatku terlupa

Arus itu, pusaran itu semakin terlihat jelas. Sampai akhirnya aku terhisap dalam pusaran itu. Anehnya pusaran itu terasa hangat, lembut. Pusaran itu tak lagi terlihat cepat dan menakutkan. Lebih seperti keindahan yang hakiki. Hangat, lembut. Betapa anehnya


Aku terhisap semakin dalam. Tidak mengetahui apa yang ada di dasar pusaran itu. Adakah bahaya terdapat disana. Adakah kegelapan menyambutku disana. Akankah dinginnya menusuk tulangku.

Aku tidak peduli. Hatiku yakin. Otakku menyerah.

Aku sampai dasar laut.

Aku melihat keindahan.

Aku dikelilingi air, aku bersamamu. Tidak ada bahaya yang mampu mengusikku. Aku berada dalam kesunyian, senyap, tetapi dapat kudengar deburan ombak. Aku berada di kegelapan dasar laut tetapi dapat merasakan sang mentari. Angin yang dulu memeluku telah memberikan kepercayaannya kepada air untuk memelukku lebih erat. Pelukanmu terasa hangat. Berbeda

Untuk beberapa saat. Aku dapat merasakan apa yang mereka bilang keindahan cinta. Hangatnya kasih sayang. Indahnya pelangi harapan. Dan manisnya rasa

Sampai pada saat itu ....
                                               *****

Air teringat ia tidak bisa meninggalkan tugasnya untuk menjadi awan dan menyejukkan belahan bumi yang lain. Air teringat ia tidak dapat memelukku lebih erat dari sang angin. Air tidak dapat meninggalkan kodratnya untuk menjadi hujan.

Air bukanlah milikku. Air menginginkanku. Tetapi ia kalah terhadap kodratinya. Ia tak berani tetap tinggal didasar laut dan mendampingiku. Bersamaku

Ia memaksaku kembali ke permukaan. Ia membuatku terseret ke daratan. Ia membuatku tak kembali berani untuk berenang. Apalagi menyelam

Air berkata padaku ia ingin tetap bersamaku. Air berkata padaku akan meninggalkanku. Air berkata padaku agar meninggalkannya. Air berkata padaku jangan pernah melewatkan hujan karena saat itu ia dapat bersamaku. Air berkata padaku ia mencintaiku. Air berkata padaku ia tak bisa bersamaku

Air yang tampak sangat tak berbahaya. Air yang tampak sangat berani untuk tetap menghancurkan dirinya di batu karang bahkan tak berani untuk tetap berada di laut.

Dan yang ia tak sadari, air telah mengikis bentengku. Yang tadinya hanya retakan telah menjadi lubang yang menganga. Yang tadinya diisi oleh sejuknya air kini kering. Meninggalkan retakan-retakan kekeringan yang terasa masam dan pahit.

                                                         *****

Hatiku menangis. Hatiku tersesak. Hatiku tersakiti.

Otakku tak bisa lebih tidak peduli kepada hatiku. Otakku dapat merasakan kejayaanya kembali. Otakku berpesta.

Nyala lilin yang menenangkan hanya terlihat indah oleh otakku. Hatiku hanya dapat merasakan panas nyala apinya

Kata kata bijaksana yang kembali di tuliskan hanya dapat dimengerti kegunaanya oleh otakku. Hatiku hanya dapat merasakan dinginnnya arti goresan tinta itu

Hatiku terus bergumam. Hatiku tak bisa menerima kekalahannya. Hatiku hanya.... merindukannya. Dan hatiku hanya tersakiti olehnya

Bukankan hal ini yang selalu otakku coba jauhkan. Bukankah yang seperti ini yang otakku coba hindarkan. Otakku memang selalu mengerti apa yang sebenarnya aku butuhkan. Tak seperti hatiku yang hanya menginginkan.
                                               *****
Setiap hujan datang, aku tak akan sudi membiarkan diriku basah oleh air. Aku tak akan sudi untuk kembali membiarkan retakan itu terbentuk. terkadang hatiku memohon. Terkadang aku sangat merindukannya.

Tidakkah air itu menyadari setiap ia datang dalam bentuk hujan, ia hanya akan menyejukkan orang lain. Yang untuk orang lain hujan itu terasa manis untukku sangat mengikis.

Bukannya tak mungkin menggapai cintamu. Hanya saja aku tak sanggup kembali hancur. Aku tak ingin sakit. Aku tak sanggup sakit.

                                      *****

“When i fall in love, i fall hard”. Sangat keras. Dan ini adalah kisah pertama kali aku rasa aku merasakan cinta

Setelahnya, kemarau panjang kembali menghuni ruang di hatiku

No comments:

Post a Comment